Tuesday, July 30, 2013

Issue "Penundukan Diri"

Penundukan diri kepada pemimpin rohani adalah penundukan diri yang bersyarat. Penundukan diri yang tanpa syarat itu pengajarannya telah dibantah sendiri oleh orang yang mengajarkannya.

Sekitar pertengahan tahun 1970-an ada 5 hamba Tuhan dari Amerika Serikat yang mengajarkan sebuah pengajaran yang disebut pengajaran "Hard Shepperding". Kelima hamba Tuhan gereja karismatik yang terkenal ini adalah Derek Prince, Bob Mumford, Charles Simson, Don Basham dan Ern Baxter. Mereka terkenal dengan sebutan "Fort Lauderdale Five".

Mereka berkata bahwa kekristenan sampai sekarang ini telah 100 tahun mengalami apa yang disebut "orang kristen tidak berkomitmen" / "uncommited christian". Nah untuk membuat orang komitmen maka mereka mulai "memaksakan" sebuah pengajaran yang namanya pengajaran komitmen kepada local church / gereja lokal, yang pada waktu itu adalah jawaban untuk membantah semua persekutuan-persekutuan karismatik yang waktu itu sedang menjamur dimana-mana.

Untuk menghentikan persekutuan mereka berkata "jangan pergi ke persekutuan, sebab persekutuan itu liar, tidak ada "tudung", datanglah kesini, komitmenlah kepada kami" >> KOMITMEN SEARAH.

Pengajaran ini menyebar dengan cepat dengan issue "ketaatan". Ayat yang dipakai adalah Ibrani 13:17, "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu."

Kemudian keluarlah pengajaran-pengajaran seperti contohnya "kalau kamu pindah gereja maka kamu masuk neraka" Ini bukan lelucon namun benar-benar terjadi pada waktu itu. "Kalau kamu kerjakan ini maka kamu telah menyimpang, dlsb, dlsb" Jemaat "dicekokin" pengajaran-pengajaran seperti ini, tanpa mereka sadar bahwa issue itu telah menyebabkan mereka menjadi "tuhan" buat jemaat mereka.

Sampai-sampai pernah ada perkataan seperti ini, "karena saya komitmen dengan kamu (para pemimpin rohani), saya mau cukur rambut, boleh tidak kalau saya cukur rambut?" Mau cukur rambut tanya pendetanya ??

Orang-orang yang pertama kali menerapkan hal ini secara TOTAL, seperti Bob Weiner. Dan tahukah saudara akibatnya? Gereja Maranatha di seluruh dunia berantakan. Mereka membubarkan dan menghentikan Maranatha dimana-mana dan berkata, "Saya tidak dapat mempercayai lagi doktrin seperti ini!"

Dan tahun 1980-an Derek Prince sudah mengakui bahwa doktrin ini sudah tidak perlu lagi diajarkan. Bob Mumford telah juga menarik perkataannya mengenai doktrin tersebut....TETAPI KITA TETAP JALANKAN HAL YANG SAMA.....SAMPAI HARI INI !!!

Apakah masalahnya? Waktu diterapkan prinsip seperti itu maka kepemimpinan MODEL KEPAUSAN muncul. Muncullah hamba-hamba Tuhan yang dengan KERAS dan memang gerejanya "JADI LEBIH BAGUS". Well....AGAMA bagus karena KERAS. Pak Harto membuat agama ORDE BARU selama 32 tahun, gereja bersatu, Indonesia bersatu. Pak Harto sangat KERAS, kalau melawan langsung masuk penjara atau "diculik", tentu untuk "dilenyapkan", sehingga orang-orang yang hilang tidak ada ceritanya lagi.

Cara ini memang "paling bagus", tetapi apakah Tuhan pakai cara itu ??? TIDAK! Cara Tuhan adalah....KEHENDAK BEBASMU...PUTUSKAN....Tuhan tidak pernah mengendalikan dan memaksakan. Tuhan menyerahkan kepada orang-orang agar dengan kasih/kesadaran melakukannya. Tetapi gereja sekarang mau apa? Mau KENDALI...kendali dari atas ke bawah. Issue penundukan diri sekarang telah berubah menjadi issue KENDALI / "Controlling Issue". Orang-orang dikendalikan dengan istilah itu : "Tunduk kamu!!! maka kita akan tunduk...."

Namun sebenarnya seperti ini: Tuhan punya kehendak atas setiap pribadi manusia. Kalau saya mau tahu kehendak Allah atas diri saya, haruskah saya bertanya kepada orang lain? Alkitab mengajarkan bahwa semua orang percaya harus membangun hubungan intim dengan Tuhan. Belajar lewat Firman Allah, menemukan kehendak Allah secara pribadi dalam dirinya.

Kadangkala jemaat datang pada pendetanya dan bertanya, "pak Pendeta, apakah kehendak Allah dalam kehidupan saya?" maka pendeta menjawab, "kehendak Allah dalam hidupmu adalah ini, ini dan ini..." Saya takut...yang saya tahu saya juga pendeta, hamba Tuhan dan gembala jemaat, kalau ada yg datang ke kantor saya dan bertanya "apakah kehendak Allah untuk kehidupan saya?" maka saya akan suruh begini, "Cari tahu sendiri! Tidak ada jalan pintas sebab saya bukan imam, saya bukan mediator, saya bukan Yesus Kristus, saya adalah hamba Tuhan, saya bukan pengantara mereka dengan Tuhan! Tidak ada lagi pengantara seperti itu! Orang bisa langsung berhubungan dengan Tuhan! Makanya jemaat harus diajar benar-benar untuk berhubungan intim dengan Tuhan.....Padahal sebenarnya begini: Kita juga sebenarnya lagi sibuk cari tahu kehendak Allah dalam kehidupan kita bukan! Tapi kita juga mau ajar orang lain untuk cari tahu kehendak Allah dalam kehidupan kita. Sebaiknya begini dong, ayo jujurlah, kita harus betul-betul temukan dengan keyakinan kita membantu mereka dengan prinsip-prinsip, bukannya memberi tahu harus ini, ini dan ini! Pelajari kisah Yehezkiel dan Yesaya, Alkitab berkata "Pengajarmu tidak akan jauh" Pengajarmu itu adalah Roh Kudus yang akan menuntunmu baik ke kiri maupun ke kanan atau lurus. Itu adalah tuntunan langsung, bukan tuntunan yang harus lewati beberapa orang yang disebut "superman" yang sangat sensitif mendengar suara Tuhan, sementara yang lain tidak mendengar suara Tuhan.

Issue kendali ini kalau kemudian kita perlahan-lahan bawa maka akan sangat-sangat mengerikan. Akhirnya kemudian semua keputusan dipegang oleh SATU TITIK >> "PAUS" juga akhirnya! Kalau dia sudah berumur 40 tahun keatas sering tergantung dia suka atau tidak suka khan? Kalau dia bilang tidak suka maka semua jemaatnya pun harus bilang tidak suka. Kalau dia bilang tidak boleh maka semua jemaatnya juga harus tidak boleh. Kalau dia berkata "begini" maka semuanya "harus seperti ini". Tolong baca buku "praktek sihir dalam gereja". Kiranya buku itu menolong kita untuk memahami bahwa kadangkala kehendak Tuhan tidak bisa terlaksana cuma karena kita berpihak pada kehendak kita sendiri. Dan kita merasa kitalah pemegang utama dari semua "franchise" penundukan diri dalam gereja dan semua orang harus tunduk pada kita.

Bahkan kita berpikir begini, kalau Roh Kudus harus jamah jemaat kita, maka Roh Kudus harus minta ijin dari kita. Saya punya anak binaan yang diusir dari gerejanya, makanya saya bina. Dia cerita begini, "saya pernah datang pada pendeta saya, saya suatu kali mendapat penglihatan begini, begini dan begini..." Bisakah Tuhan berbicara melalui penglihatan kepada orang muda? Bisa. Nah orang muda ini datang pada pendetanya dan berkata, "saya mendapat penglihatan mengenai jemaat kami, jemaat kita itu ternyata begini pak pendeta..." lalu pendeta berkata, "Tidak mungkin! sebab kalau Tuhan bicara kepada kamu maka Tuhan akan bicara pada saya terlebih dahulu!" Pernahkah mendengar seperti itu? bahwa kalau Tuhan bicara kepada kamu sebagai jemaat maka Tuhan juga harus bicara kepada pemimpinnya sebab TUHAN SELALU BICARA KEPADA PEMIMPIN? Tidak! Ada ayat di Alkitab, karena Eli sudah buta dan tua dan duduk disitu maka Tuhan cuma bicara pada Samuel. Tuhan tidak bicara pada Eli. Penglihatan jarang. Ada kisah seperti itu. Pelajari dong, bacalah apa saja. Jangan berkata begini, "cuma yang Tuhan bicara, orang lain tidak bicara, kalau Tuhan bicara pada kamu maka Tuhan harus bicara terlebih dulu pada saya! Apa namanya ini? SATPAM ROHANI! Kita berpikir bahwa kita bisa kendalikan Tuhan bicara pada orang lain dan kalau Tuhan mau bicara pada anggota jemaat kita maka Tuhan harus minta ijin dari kita.



Disarikan dari Seminar gereja rumah oleh Jonathan Pattiasina di Semarang tahun 2000/2001.

Sumber teologi "Hard Shepperding" / "Penundukan diri" / "Covenant relationship" : http://en.wikipedia.org/wiki/Shepherding_Movement

No comments:

Post a Comment

Post a Comment