Showing posts with label Kepemimpinan. Show all posts
Showing posts with label Kepemimpinan. Show all posts

Sunday, September 29, 2013

KEIMAMATAN SEMUA ORANG PERCAYA

Adalah kesetaraan diantara orang percaya dalah tubuh Kristus untuk mengerjakan seluruh fungsi-nya sebagai imam di dalam Kerajaan Allah.

Wahyu 1: 5b- 6
Bagi Dia, yang mengasihi kita dan telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya, dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan menjadi imam- imam bagi Allah, Bapa-Nya,- bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selamanya- lamanya. Amin.

I Petrus 2: 9
Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan- perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.

Beberapa pendapat para Hamba Tuhan:

Uskup Lightfoot
“ Ide tentang suatu imamat yang universal dan kesetaraan semua orang percaya, meskipun sudah diajarkan sebelumnya, mula- mula diwujudkan dalam Gereja Kristus... Ide ni sampai sekarang tidak dipahami secara sempurna... Maka iniah idaman orang Kristen, suatu masa kudus yang berjalan sepanjang tahun- suatu bait suci yang hanya dibatasi oleh batas- batas dunia yang didiami ini- suatu imamat yang seluas dengan umat manusia.

Alexander Hay:
Pelayanan di dalam jemaat tidak bergantung kepada para pendeta yang berpendidian seminari... pelayanan suatu Gereja di adakan bukan oleh satu/ beberapa orang, melainkan oleh semua anggota Gereja itu. Suatu jemaat bukanlah sekumpulan petobat yang jarang aktif dan senantiasa tidak dewasa shingga harus selalu diasuh, melainkan suatu jemaat yang merupakan suatu sarang pekerja yang sedang bertumbuh dalam pengalaman dan kuasa rohani.




Kebenaran- kebenaran di atas membawa beberapa kesimpulan:


1. Tidak ada perbedaan antara kaum rohaniwan dan kaum awam


Keluaran 19: 5-6 Jadi sekarang jika kamu sungguh- sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semua yang harus kaukatakan kepada orang Israel.

Beberapa pendapat Hamba Tuhan: T.C. Hammond
“ Ide tentang perbedaan antara pendeta dan orang- orang Kristen lain, yang membuat terbentuknya suatu “golongan” rohaniwan tidak pernah dikenal dalam Alkitab.

Foakes Jackson
Pada abad pertama kaum awam rupanya telah melayani dengan kuasa yang hampir sama dengan kaum rohaniwan. Roh Kudus telah menyatakan Diri dalam hampir semua anggota umat Kristen itu.

DR. Leon Morris
Tidak ada satu peristiwapun yang didalamnya dikatakan bahwa Tuhan telah mengadakan suatu jabatan pendeta resmi yang harus diberi penghormatan yang semestinya oleh para pengikut Kristus... Jemaat Kristus harus merupakan suatu masyarakat, orang- orang sederajat, suatu persekutuan yang di dalamnya semua orang merupakan saudara dan tidak ada yang mempunyai hak istimewa.

Uskup Lightfoot
Mereka yang disebut imam menurut Injil, seperti ditunjukkan dalam perjanjian baru, hanyalah orang- orang kudus, para anggota persaudaraan Kristen. Sebagai pribadi- pribadi, semua orang Kristen adalah imam- imam.


2.Tugas penginjilan, membaptis dan memuridkan adalah tugas semua orang (baptisan bukan tugas kaum/ golongan tertentu apalagi tugas pendeta).

Matius 28: 19-20
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus; dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman.

Wayne Hayworth:
Pola aklitabiah bagi jemaat telah memberikan tanggung jawab yang sama kepada semua anggota untuk bersaksi, bahkan memberikan tugas pelayanan serta karunia- karunia Roh yang tepat kepada setiap anggota.


3.Kebaktian/ ibadah adalah milik semua orang

I Korintus 14: 26
Jadi bagaimana sekarang saudara- saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendakah tiap- tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau karunia Allah, atau karunia bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.

Kebaktian bukanlah milik orang- orang yang ada di panggung. Desain seperti ni tidak pernah dikenal di dalam alkitab.

Alexander Hay mendefinisikan kebaktian jemaat sebagai:
Suatu perkumpulan lokal “imam-imam bagi Allah, dengan Kristus sebagai Imam Besar yang hadir di tengah- tengah mereka.

Perkumpulan anggota- anggota jemaat tidak terpusat kepada kotbah tetapi pada Kristus.. Unsur hakikinya adalah kebebasan Roh untuk memimpin kumpulan itu dan untuk memuliakan Kristus dengan memakai siapa saja yang dipilih-Nya. Ada pengakuan penuh akan imamat semua orang percaya.

I Kor 14: 26 menunjukkan suatu keanekaragaman yang mengherankan dalam pelaksanaan ibadah. Tidak ada pengawasan resmi atas hal- hal rinci atau ketaatan pada suatu aturan liturgi yang tetap yang akan dapat menekan kebebasan setiap ekspresi Roh.

W. Telfer:
Kebaktian jemaat seakan- akan berjalan dengan sendirinya tanpa pemimpin atau rencana yang sudah dipersiapkan. Setiap orang Kristen rupanya sama bertanggungjawab terhadap sesamanya atas apa yang sedang berlangsung, karena merupakan harapan umum bahwa setiap orang yang hadir akan bertindak hanya waktu ia tahu bahwa dirinya digerakkan oleh Roh untuk itu. Karenanya peraturan yang Paulus harapkan adalah yang bersifat adikodrati.

Selamat melayani dengan tugas yg sama dengan para “pendeta” .. ingat tugas dan keimamatan orang percaya adalah milik SEMUA orang percaya.

Sumber : Klik Disini
Baca SelengkapnyaKEIMAMATAN SEMUA ORANG PERCAYA

Monday, August 12, 2013

Upside-Down Leadership !

Baca SelengkapnyaUpside-Down Leadership !

Sunday, August 11, 2013

Benarkah pelayanan para Rasul dan para Nabi sudah berakhir seiring berakhirnya pelayanan 12 Rasul Yesus Kristus ?

Andaikata anggapan ini benar, maka ayat-ayat dibawah ini musti ditelaah kembali :

Eph 2:19-22 "Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan KAWAN SEWARGA dari ORANG-ORANG KUDUS dan anggota-anggota KELUARGA ALLAH, yang DIBANGUN DI ATAS DASAR para RASUL dan para NABI, dengan Kristus Yesus sebagai BATU PENJURU. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh."

Eph 3:4-6 "Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus, yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada RASUL-RASUL dan NABI-NABI-NYA yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi AHLI-AHLI WARIS dan ANGGOTA-ANGGOTA TUBUH dan PESERTA dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus."

Luk_11:49 Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka NABI-NABI DAN RASUL-RASUL dan SEPARUH dari antara NABI-NABI dan RASUL-RASUL itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya,
(Ini adalah nubuat Yesus Kristus mengenai pelayanan Rasul dan Nabi di sepanjang zaman kekristenan dan salah satu tanda utama dari para RASUL dan para NABI sejati adalah aniaya berat karena memberitakan Injil dan karena mendirikan jemaat-jemaat baru. Yesus meramalkan setidaknya SEPARUH dari mereka (pasti) akan terbunuh, dan sisanya minimal akan mengalami aniaya berat. Well...ramalan Yesus akan selalu menjadi kenyataan. Paling tidak sekarang kita menemukan salah satu alasan sulitnya mengenali Rasul dan Nabi yang asli, karena mereka sering berada di garis terdepan penginjilan dan SEPARUH-nya hilang dari peredaran karena terbunuh).

1Co_12:28 Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai RASUL, kedua sebagai NABI, ketiga sebagai PENGAJAR. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh.

1Co_12:29 Adakah mereka semua RASUL, atau NABI, atau PENGAJAR? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat,

Eph_4:11 Dan Ialah yang memberikan baik RASUL-RASUL maupun NABI-NABI, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, (Mengapa RASUL dan NABI diletakkan Paulus dalam urutan pertama dan kedua? Bukan karena mereka lebih baik atau lebih utama, melainkan karena FUNGSI mereka sebagai Arsitek Bangunan dan Juru Peta Bangunan).

2Pe_3:2 supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh NABI-NABI kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh RASUL-RASULmu kepadamu.
(Mengapa kita disuruh mengingat perintah Tuhan yang disampaikan melalui para Rasul dan Nabi? karena mereka berfungsi meletakkan dasar kehidupan keluarga Allah supaya bangunan rohani ini menjadi RAPIH TERSUSUN berdasarkan hikmat Allah, bukan hikmat manusia - Efesus 2:19-22).

Rev_18:20 Bersukacitalah atas dia, hai sorga, dan kamu, hai orang-orang kudus, RASUL-RASUL dan NABI-NABI, karena Allah telah menjatuhkan hukuman atas dia karena kamu."
(Rupanya salah satu alasan penghukuman Allah atas Iblis dan antek-anteknya adalah karena darah para Rasul, Nabi dan orang-orang kudus yang berteriak kepada-Nya, menuntut penghakiman yang adil dari Allah : Rev 6:9-11 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki. Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: "Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?" Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.)

-----------

Akan tetapi sebaliknya kalau memang pelayanan mereka benar-benar ada, mengapa seolah-olah mereka seperti tidak ada? Apakah karena sebenarnya mereka memang tidak ada? Ataukah mereka benar-benar ada namun dibuat menjadi seolah-olah "tidak ada"? Mungkinkah masalahnya hanya karena kita yang tidak bisa mengenalinya - karena rasul dan nabi yang asli memiliki konsep-kerangka-kerjanya yang "asing" bagi kebanyakan pola pikir kita? Mungkinkah masalahnya hanya karena mereka tidak mendapat "tempat" yang fit di dalam "Rumah Tuhan" - karena telah dibangun diatas "fondasi yang keliru" - dan oleh karenanya maka mereka dipandang secara tidak seimbang?

2Co_11:13 Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus.
(Jika ada Rasul palsu maka pastilah ada Rasul yang asli. Salah satu strategi Iblis yang paling jitu adalah membuat apa yang benar-benar penting (IMPORTANT) dalam pandangan Allah menjadi seolah-olah tidak-penting (UN-IMPORTANT) dalam pandangan manusia. Jangan membuang bayi bersama-sama dengan air bekas mandinya. Rasul Palsu sudah pasti juga sulit dideteksi karena "penyamaran" mereka begitu hebat dan sempurna sehingga seolah-olah sangat mirip dengan yang asli. Kalau tidak demikian maka tentu tidak dapat dikatakan sebagai "penyamaran". Bahkan seringkali mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang "menyamar" dikarenakan mereka sesungguhnya sedang tertawan).

Mat_7:15 "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.

Mat_10:16 "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Joh_10:12 sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.

Act_20:29 Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu.

-----------

Rumah Tuhan tidak akan pernah mencapai destiny dari Sang Master Builder (Sang Batu Penjuru) jikalau tidak dibangun berdasar Juru Arsitek Bangunan (Rasul) dan Juru Peta (Nabi) yang Yesus Kristus sendiri telah tentukan bagi pembangunannya. Tanpa pelayanan mereka Amanat Agung-pun hanya akan menjadi slogan yang masih jauh dari pemenuhannya dan jemaat-pun akan suam secara rohani malahan seolah-olah menjadi alergi terhadap Amanat Agung.

Bagi gereja mula-mula, mereka memiliki 22 rasul yang menjadi arsiteknya. 12 rasul mengalami pemuridan langsung dari Yesus Kristus dan 10 yang lain tidak secara langsung. Setahu saya dari ke-22 Rasul gereja mula-mula ini, hanya Yohanes yang tidak mati secara martir. Gereja Tuhan di akhir zaman ini tidak akan pernah menjadi mempelai yang siap sedia, tak bercacat cela dan tak berkerut selama tidak dibangun berdasarkan instruksi para arsitek bangunan dan para juru peta bangunan ini.

Luk_1:17 dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu UMAT YANG LAYAK BAGI-NYA."

Eph_5:27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan CEMERLANG TANPA CACAT atau KERUT atau YANG SERUPA ITU, tetapi supaya jemaat KUDUS dan TIDAK BERCELA.

Mat_25:10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah SIAP SEDIA masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.

Rev_19:7 Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah SIAP SEDIA.

Rev_21:2 Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang BERHIAS bagaikan PENGANTIN PEREMPUAN yang BERDANDAN untuk suaminya.

Rev_21:9 Maka datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, katanya: "Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu PENGANTIN PEREMPUAN, mempelai Anak Domba."

Rev_22:17 Roh dan PENGANTIN PEREMPUAN itu berkata: "Marilah!" Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: "Marilah!" Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!

AMIN !
Baca SelengkapnyaBenarkah pelayanan para Rasul dan para Nabi sudah berakhir seiring berakhirnya pelayanan 12 Rasul Yesus Kristus ?

Friday, August 9, 2013

Pemimpin yang "Untouchable" ?

1Co 10:15 I speak as to wise men; JUDGE ye what I say.
1Co 14:29 Let the prophets speak two or three, and let the other JUDGE

--------------------------------

Rasul Paulus bukan manusia sempurna dan tidak "immune" terhadap tegoran dan "penghakiman" dari jemaatnya mengenai ajaran-ajaran yang ia sampaikan. Ia sangat terbuka untuk mendiskusikan ajaran-ajarannya, Ia mempersilakan apabila ada jemaat yang hendak memberi masukan, bahkan "penilaian" atau "penghakiman" atas ajaran yang ia sampaikan.

Ia sangat menyadari bahwa jemaatnya/para murid - yg meskipun baru saja dimuridkan di Efesus selama 3 tahun belakangan - juga sama-sama imamat rajani / satu level / sederajad dengan Paulus dihadapan Tuhan, sehingga pola-pola pengajaran/pemuridan Paulus selalu diskusi dua arah - menghargai suara / pendapat / pertanyaan dari imamat rajani yang lain - meskipun masih disebut murid-murid.

Tak pernah terbersit satu kalipun bagi rasul Paulus untuk secara hierarkhis-organisatoris memposisikan dirinya diatas jemaat/para murid, karena sejatinya fungsinya hanyalah memperlengkapi / memberdayakan jemaat untuk pekerjaan pelayanan

(jangan pernah pikirkan PEKERJAAN PELAYANAN dalam konsep pemikiran rasul Paulus waktu itu adalah main musik, main tamborin, jadi Worship Leader/Singers, jadi usher-kolektan atau jadi hamba-Tuhan-yang-dibayar, karena PEKERJAAN PELAYANAN bagi rasul Paulus adalah pembangunan tubuh Kristus, suatu "jenis pelayanan" yang langsung masuk kepada esensinya yaitu membangun dan membagi kehidupan dengan orang-orang/murid-murid).

-----------

Ia adalah rasul yang sangat rendah hati dan betul-betul pemimpin-berhati-hamba/pelayan/doulos, bukan pemimpin berhati "organisatoris-pengusaha-CEO-BOSS" seperti yang menjadi fenomena yang marak terjadi sekarang, padahal ia juga seorang pengusaha/pembuat tenda/businessman yang relatif sukses (kalau tidak sukses pasti tidak akan mampu membiayai teman-teman seperjalanan dan membantu jemaat yang kekurangan) - lihat ayat dibawah ini:

Act 20:18 Sesudah mereka datang, berkatalah ia kepada mereka: "Kamu tahu, bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: Act 20:19 dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. Act 20:20 Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di RUMAH kamu;

Act 20:33 Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga. Act 20:34 Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Act 20:35 Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."

-----------

Apa yang ia sampaikan, sekarang kita terima sebagai Firman Tuhan yang diilhami Roh Kudus - dan oleh karenanya berotoritas ilahi dan tanpa salah dan oleh karenanya menjadi bagian kanonisasi Perjanjian Baru.

-----------

Berbeda dengan kebanyakan gereja sekarang yg "belagu", membuat aturan-aturan manusia yang secara tidak langsung telah "disejajarkan" dengan Firman Tuhan, menjadi seolah-olah "UNTOUCHABLE", tidak bisa dikritik/dinilai/didiskusikan/diperbaiki/direvisi.

----------------------------------------------

Act_21:4 Di situ kami mengunjungi murid-murid dan tinggal di situ tujuh hari lamanya. Oleh bisikan Roh murid-murid itu menasihati Paulus, supaya ia jangan pergi ke Yerusalem.

(Apa???? Rasul besar dinasehati jemaat/para murid? Iya, benar! bahkan Paulus pun nurut / manut akan bisikan Roh yang disampaikan melalui para murid supaya jangan pergi ke Yerusalem (karena belum saatnya mati martir). Disinilah antara lain fungsi imamat yang rajani, saling mengingatkan, saling menasihati, saling memperhatikan, saling membangun, saling mendoakan, saling mengaku dosa, saling menegor, saling, saling, saling dan saling.....)

Mat_4:17 "Repent: for the kingdom of heaven is at hand."
Baca SelengkapnyaPemimpin yang "Untouchable" ?

Tuesday, July 30, 2013

Issue "Penundukan Diri"

Penundukan diri kepada pemimpin rohani adalah penundukan diri yang bersyarat. Penundukan diri yang tanpa syarat itu pengajarannya telah dibantah sendiri oleh orang yang mengajarkannya.

Sekitar pertengahan tahun 1970-an ada 5 hamba Tuhan dari Amerika Serikat yang mengajarkan sebuah pengajaran yang disebut pengajaran "Hard Shepperding". Kelima hamba Tuhan gereja karismatik yang terkenal ini adalah Derek Prince, Bob Mumford, Charles Simson, Don Basham dan Ern Baxter. Mereka terkenal dengan sebutan "Fort Lauderdale Five".

Mereka berkata bahwa kekristenan sampai sekarang ini telah 100 tahun mengalami apa yang disebut "orang kristen tidak berkomitmen" / "uncommited christian". Nah untuk membuat orang komitmen maka mereka mulai "memaksakan" sebuah pengajaran yang namanya pengajaran komitmen kepada local church / gereja lokal, yang pada waktu itu adalah jawaban untuk membantah semua persekutuan-persekutuan karismatik yang waktu itu sedang menjamur dimana-mana.

Untuk menghentikan persekutuan mereka berkata "jangan pergi ke persekutuan, sebab persekutuan itu liar, tidak ada "tudung", datanglah kesini, komitmenlah kepada kami" >> KOMITMEN SEARAH.

Pengajaran ini menyebar dengan cepat dengan issue "ketaatan". Ayat yang dipakai adalah Ibrani 13:17, "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu."

Kemudian keluarlah pengajaran-pengajaran seperti contohnya "kalau kamu pindah gereja maka kamu masuk neraka" Ini bukan lelucon namun benar-benar terjadi pada waktu itu. "Kalau kamu kerjakan ini maka kamu telah menyimpang, dlsb, dlsb" Jemaat "dicekokin" pengajaran-pengajaran seperti ini, tanpa mereka sadar bahwa issue itu telah menyebabkan mereka menjadi "tuhan" buat jemaat mereka.

Sampai-sampai pernah ada perkataan seperti ini, "karena saya komitmen dengan kamu (para pemimpin rohani), saya mau cukur rambut, boleh tidak kalau saya cukur rambut?" Mau cukur rambut tanya pendetanya ??

Orang-orang yang pertama kali menerapkan hal ini secara TOTAL, seperti Bob Weiner. Dan tahukah saudara akibatnya? Gereja Maranatha di seluruh dunia berantakan. Mereka membubarkan dan menghentikan Maranatha dimana-mana dan berkata, "Saya tidak dapat mempercayai lagi doktrin seperti ini!"

Dan tahun 1980-an Derek Prince sudah mengakui bahwa doktrin ini sudah tidak perlu lagi diajarkan. Bob Mumford telah juga menarik perkataannya mengenai doktrin tersebut....TETAPI KITA TETAP JALANKAN HAL YANG SAMA.....SAMPAI HARI INI !!!

Apakah masalahnya? Waktu diterapkan prinsip seperti itu maka kepemimpinan MODEL KEPAUSAN muncul. Muncullah hamba-hamba Tuhan yang dengan KERAS dan memang gerejanya "JADI LEBIH BAGUS". Well....AGAMA bagus karena KERAS. Pak Harto membuat agama ORDE BARU selama 32 tahun, gereja bersatu, Indonesia bersatu. Pak Harto sangat KERAS, kalau melawan langsung masuk penjara atau "diculik", tentu untuk "dilenyapkan", sehingga orang-orang yang hilang tidak ada ceritanya lagi.

Cara ini memang "paling bagus", tetapi apakah Tuhan pakai cara itu ??? TIDAK! Cara Tuhan adalah....KEHENDAK BEBASMU...PUTUSKAN....Tuhan tidak pernah mengendalikan dan memaksakan. Tuhan menyerahkan kepada orang-orang agar dengan kasih/kesadaran melakukannya. Tetapi gereja sekarang mau apa? Mau KENDALI...kendali dari atas ke bawah. Issue penundukan diri sekarang telah berubah menjadi issue KENDALI / "Controlling Issue". Orang-orang dikendalikan dengan istilah itu : "Tunduk kamu!!! maka kita akan tunduk...."

Namun sebenarnya seperti ini: Tuhan punya kehendak atas setiap pribadi manusia. Kalau saya mau tahu kehendak Allah atas diri saya, haruskah saya bertanya kepada orang lain? Alkitab mengajarkan bahwa semua orang percaya harus membangun hubungan intim dengan Tuhan. Belajar lewat Firman Allah, menemukan kehendak Allah secara pribadi dalam dirinya.

Kadangkala jemaat datang pada pendetanya dan bertanya, "pak Pendeta, apakah kehendak Allah dalam kehidupan saya?" maka pendeta menjawab, "kehendak Allah dalam hidupmu adalah ini, ini dan ini..." Saya takut...yang saya tahu saya juga pendeta, hamba Tuhan dan gembala jemaat, kalau ada yg datang ke kantor saya dan bertanya "apakah kehendak Allah untuk kehidupan saya?" maka saya akan suruh begini, "Cari tahu sendiri! Tidak ada jalan pintas sebab saya bukan imam, saya bukan mediator, saya bukan Yesus Kristus, saya adalah hamba Tuhan, saya bukan pengantara mereka dengan Tuhan! Tidak ada lagi pengantara seperti itu! Orang bisa langsung berhubungan dengan Tuhan! Makanya jemaat harus diajar benar-benar untuk berhubungan intim dengan Tuhan.....Padahal sebenarnya begini: Kita juga sebenarnya lagi sibuk cari tahu kehendak Allah dalam kehidupan kita bukan! Tapi kita juga mau ajar orang lain untuk cari tahu kehendak Allah dalam kehidupan kita. Sebaiknya begini dong, ayo jujurlah, kita harus betul-betul temukan dengan keyakinan kita membantu mereka dengan prinsip-prinsip, bukannya memberi tahu harus ini, ini dan ini! Pelajari kisah Yehezkiel dan Yesaya, Alkitab berkata "Pengajarmu tidak akan jauh" Pengajarmu itu adalah Roh Kudus yang akan menuntunmu baik ke kiri maupun ke kanan atau lurus. Itu adalah tuntunan langsung, bukan tuntunan yang harus lewati beberapa orang yang disebut "superman" yang sangat sensitif mendengar suara Tuhan, sementara yang lain tidak mendengar suara Tuhan.

Issue kendali ini kalau kemudian kita perlahan-lahan bawa maka akan sangat-sangat mengerikan. Akhirnya kemudian semua keputusan dipegang oleh SATU TITIK >> "PAUS" juga akhirnya! Kalau dia sudah berumur 40 tahun keatas sering tergantung dia suka atau tidak suka khan? Kalau dia bilang tidak suka maka semua jemaatnya pun harus bilang tidak suka. Kalau dia bilang tidak boleh maka semua jemaatnya juga harus tidak boleh. Kalau dia berkata "begini" maka semuanya "harus seperti ini". Tolong baca buku "praktek sihir dalam gereja". Kiranya buku itu menolong kita untuk memahami bahwa kadangkala kehendak Tuhan tidak bisa terlaksana cuma karena kita berpihak pada kehendak kita sendiri. Dan kita merasa kitalah pemegang utama dari semua "franchise" penundukan diri dalam gereja dan semua orang harus tunduk pada kita.

Bahkan kita berpikir begini, kalau Roh Kudus harus jamah jemaat kita, maka Roh Kudus harus minta ijin dari kita. Saya punya anak binaan yang diusir dari gerejanya, makanya saya bina. Dia cerita begini, "saya pernah datang pada pendeta saya, saya suatu kali mendapat penglihatan begini, begini dan begini..." Bisakah Tuhan berbicara melalui penglihatan kepada orang muda? Bisa. Nah orang muda ini datang pada pendetanya dan berkata, "saya mendapat penglihatan mengenai jemaat kami, jemaat kita itu ternyata begini pak pendeta..." lalu pendeta berkata, "Tidak mungkin! sebab kalau Tuhan bicara kepada kamu maka Tuhan akan bicara pada saya terlebih dahulu!" Pernahkah mendengar seperti itu? bahwa kalau Tuhan bicara kepada kamu sebagai jemaat maka Tuhan juga harus bicara kepada pemimpinnya sebab TUHAN SELALU BICARA KEPADA PEMIMPIN? Tidak! Ada ayat di Alkitab, karena Eli sudah buta dan tua dan duduk disitu maka Tuhan cuma bicara pada Samuel. Tuhan tidak bicara pada Eli. Penglihatan jarang. Ada kisah seperti itu. Pelajari dong, bacalah apa saja. Jangan berkata begini, "cuma yang Tuhan bicara, orang lain tidak bicara, kalau Tuhan bicara pada kamu maka Tuhan harus bicara terlebih dulu pada saya! Apa namanya ini? SATPAM ROHANI! Kita berpikir bahwa kita bisa kendalikan Tuhan bicara pada orang lain dan kalau Tuhan mau bicara pada anggota jemaat kita maka Tuhan harus minta ijin dari kita.



Disarikan dari Seminar gereja rumah oleh Jonathan Pattiasina di Semarang tahun 2000/2001.

Sumber teologi "Hard Shepperding" / "Penundukan diri" / "Covenant relationship" : http://en.wikipedia.org/wiki/Shepherding_Movement
Baca SelengkapnyaIssue "Penundukan Diri"

Monday, July 1, 2013

KEYS OF THE KINGDOM: A GLIMPSE AT APOSTOLIC UNITY

By Wolfgang Simson from his 2008 newsletter.

Many will recall the FridayFax-issue (14/2007) titled “What is God waiting for?” In November last year we related the story of Neil Gamble who had angelic visitors telling him “we are waiting for you!”

You might want to know what happened since. What follows is an account of a meeting that, if we look at its inbuilt lessons, could throw open a very fascinating door to a realm of understanding the power of unity which goes far beyond our traditional understanding of Christian Oneness.

Unity is something we often sing and pray about, but that has been practically limited to exercises in regional prayer weeks, time-bound evangelistic rallies, mutual beneficial joint ventures or project based synergies.

Like many others in the body of Christ, Neil Gamble, an Oregon-based Bible teacher, loved around the world (http://www.fathershand.net/home.html) increasingly felt stronger that something is very wrong, absent, missing, truly and fundamentally at odds in the church. Responding to years of agonizing prayer over these issues, he recently felt that God, in a number of visions and visitations, communicated to him: “The church is in sin;” and: “I am waiting for the church”. Not surprisingly, Neil heard a commission from God to “bring them together!”

“Listening Gathering”

In December 2007, a small but significant number of Christian leaders, mostly from the US, but in between themselves fairly broadly connected and globally networked, came together in Colorado Springs in a private home to spend three days of corporate and prayerful listening to respond to Neil Gamble’s initiative to get together before God. There was no agenda other than responding to God’s clear challenge and finding an answer to the question: “What, therefore, should we do?”

As the three days moved along without any one of us preplanning a specific outcome, and having agreed beforehand that “if we start with strategy in the beginning, this meeting is dead before it starts!”, these are, in hindsight, the steps that we felt God was taking us through to achieve what he wanted us to do:

1. “Whatever the father does, the son does” (John 5:19). Acting on a truly godly mandate “to bring them together” is very different from yet another conference-as-we-know-it to hear X from ministry Y to speak on Z. Rather than asking God to bless what we are doing, we need to do what God is blessing. And he blesses only what he himself has authorized and what is done in direct individual and corporate obedience to his mandates.

2. Apostolic-prophetic foundation (Eph 2:20). There is, absolutely, a priesthood of all believers, but not an “apostle-hood” or “prophet-hood” of all believers. The role of these traditionally sidelined and ignored ministries in opening up space, initiating and foundation laying is pivotal (1 Cor. 12:28 etc) and cannot be substituted by anything or anyone else. This initiative, a very significant and true rarity, was taken by prophetic and apostolic people acting in tandem. In addition to this, rather than calling folks to come together to find out what an already existing “we” (and entity like an institution, network, church, mission, group…) should do to preserve, save or expand itself, the group of people represented a passion for the church at large and the future development of the Kingdom.

Most, if not all, present were non-political leaders that would not think of demanding or even usurping prominent leadership roles, and who could all be described as fairly humble, powerless, broken and weak vessels. If at all they have leadership functions in the Body of Christ, then not by their positional authority but by their influential character.

3. Kingdom introductions. Rather than introducing people to each other the human way we are so used to (this is x who has written y number of books and planted z number of churches), we specifically spent significant time in the beginning in asking Jesus the King to introduce us the way He sees us. For this, we spent time asking God to describe us to each other by corporate prophetic revelation.

Practically, this meant 4-6 people describing what they heard from God about an individual. This was not another attempt at prophecy, for the sake of individual enlightenment or encouragement, but to help each other discern who each one was “according to the grace God has given”, and to relate to each other according to our kingdom roles. It is easy to miss who we are in the spirit if we deliberately impress each other by the things that the flesh likes to hear. This has a number of remarkable outcomes: if the King trusts a person, so can we. And if the King himself says X is a prophet and Y an apostle, then we can welcome them in a prophet’s name or reap an apostle’s reward.

4. “Give it all up.” In a most remarkable challenge to us, we felt God was asking us to each one step into the middle of the room and lay anything and everything down that we felt truly defined us.

This was His challenge: to remove any unconscious idolatry, deliver us from the pursuit of any selfish ambition and the idolatrous trap where something else other than God, gives us identity, security and destiny. Serving our own ministry rather than God, demonstrating and parading our own giftings to reap recognition, significance or even the danger of simply being a “hired hand” (at whichever level) to fit into a pre-existent entity (church, mission etc) can absolutely wrap up our own existence into predetermined issues. And this means we can easily become warped, biased, preoccupied, partial and self-assuming.

Only as we willingly lay down what we hold on to, we can become empty vessels into which the Lord can pour out something new. To be absolutely clear: most of the time the reason we hold on to such things like positions, roles in organizations, traditions, titles etc. is because of the financial identity and security they offer. But the truth is, we either live by faith or by calculation (or “by sight”).

God seriously challenged us to voluntarily accept a personal “Ground Zero”, to die to ourselves, sacrificing “our Isaacs” and allowing Him to remove anything (visions, expectations, special roles, pet ideas etc) that we ourselves - or others - have placed on our shoulders. This created a clean slate, a situation where no one in the room any more represented anything - and therefore we all had an invitation to corporately enter into what we felt was an “open heaven”, a free access to the throne room of God, having stopped waving our offensive self created banners, flags and logos into the face of the King.

5. “Who may stand in his holy place?” We all knew that only “he who has clean hands and a pure heart, who does not lift up his soul to an idol” could ever do that (Psalm 24). So this opened a time of cleaning up, clearing the air, whether regarding interpersonal or cultural issues.

6. “Open the gates!” Many of us had seen prophetically a huge gate that was locked with an elaborate mechanism. It took all our corporate efforts to have it opened, and it did. We know gates represent government. As the “Gates of Hades”, the government of the demonic domain, will be unable to stand against a true kingdom-shaped ecclesia that the Lord himself builds (Mt 16:18), someone needs to tell the gates, the ancient doors, to be lifted up, so that the King of glory may come in (Ps 24:7).

This is where we felt we were allowed to do a corporate act of “opening the gates”, binding the strong man (Lk 11) and asking the Lord for the salvation and discipleship of many hundreds of millions of currently enslaved captives to escape into freedom, for a divine “prison break.”

7. “Let there be...!” In such a situation we felt that God gave us a unique and almost unexperienced place of authority to not only intercede and request from him, but declare our corporate intent in terms of the future spiritual direction for the church in the USA in the face of the “rulers and authorities in the heavenly realms”, the demonic government (Eph 3:10).

Jesus said: “I will do whatever you ask in my name” (John 14:15), and, having our own name (our ministry, our church, our agendas) removed from the equation, we felt we were given a carte blanche to corporately bring before him our “wish list”.

This, however, had to be absolutely in line with God’s purposes. Making ourselves one as the heart-to-heart unity in Acts 1, this led to a time of “corporate decreeing”, speaking new realities into existence and declare with one voice: “Let there be light, salvation, unity, transparency, accountability” etc.

A biblical precedence for this experience may have been Moses, who was first confronted by God to throw down the rod (his only symbol of status and strength in the desert) in his hand. It turned into a repelling snake which later he took “by the tail” (the wrong way is the right way) to see it turn into a rod again, but then it was no longer the “rod of Moses”, but the “rod of God” (Ex 4:20).

Later, trapped between the advancing Egyptian army and the Red Sea, loud intercession was not enough, but God said to Moses: “Why do you cry out so loud to me! Use your rod to divide the water…!” (Ex 14:15). Simply said: God allowed us to use our corporate rod. Many of us experienced this part as very intense, and it felt as if this time was initiating an untold number of spiritual developments for which the angels of God seem to have been waiting for a long time.

8. Dealing with demonic backwash. Few of us could sleep that night. One of us experienced a clear satanic presence as demonic eyes were trained on him. He said to the demon: “Do whatever mischief you have to do, because your time is running out!” Similar to D-Day in the Normandy that led up to V-Day, we felt God has allowed us to score a significant victory in the face of fierce demonic opposition and establish a spiritual beachhead that now has to be extended.

As the enemy was forced to retreat he pulled off angry shots at anything that moved and that was unprotected, and he tried to devour anyone to which God gave him license to (similar to the family of Job), a prowling lion on the run.

The news of the very next morning was that a young man on a demonic rampage had shot people at the YWAM base in Denver, and then was driving up to a church (New Life Fellowship) in Colorado Springs to do the same, before being shot himself. This seemed to be one more sign and symbol for the intense life-and-death spiritual battle that is raging for the nation of the USA. However, as the demonic domain is a defeated enemy - since the complete victory of Jesus in the desert, at the cross and his resurrection - this victory has now to be appropriated and applied, similarly to the promised land, that has been first promised by God, but then had to be taken in a corporate effort in the days of Joshua.

Pass on the process. What God communicated to us at this event - something he could not have done if we would just seek him individually - needs to now be passed on to others.

Only a legitimate church that is not stubborn in her sin, a church (mission, foundation, trust) that does not only sing and preach “Lord, Lord” but is in fact obedient to its King, and a church that learns to act as one and “use her rod” as ambassadors on behalf of her King, that is, act in healthy apostolic unity and determination, will see the discipling of all nations done, and will do so quickly.

God seemed to have shown us in a few bewildering days a simple but not at all simplistic way to use the “keys of the kingdom” (Mt 16:19). Experiencing this retreat was for all of us a surprising token of what God wants to do through all of us in the future, and do so everywhere.

These are, in summary, some of the lessons we felt we have learned and need to pass on:

• Repentance. If God is waiting for the church to be - and therefore do - something that she has not been - and therefore done - before, our urgent and diligent corporate action is required. We need to become someone we have not been before, and do things we have not done before. True repentance leads to:

• Repositioning. Organized mostly by men, the church and its mission has to return to her divine order, rearranged according to God’s original design and returning to His apostolic and prophetic foundations that have been ignored and ill respected for too long. However, “only dead apostles and prophets are good apostles and prophets”, meaning that un-crucified, unbroken, strong and triumphant self-ordination into these ministries are not the solution, but rather part of the problem.

• Representation. We cannot represent God on our own. individual missions, projects, foundations, churches or even individuals may pray, preach, plan, declare and decree whatever they fancy, but to very little avail. Only a united and therefore legitimate church that has stopped legitimizing and marketing itself and has again become attached to its head can functionally represent God to the rulers of darkness and to this world.

• Rod. Kingdom authority comes only through those that have voluntarily placed themselves under the authority of the King, and therefore painstakingly seek to do only what he bids us to do. In such a case, heaven is the limit for what can be achieved, and no longer our self-limitations.

• Rulership of God. If we define the Kingdom of God as the domain of God’s uncontested rule, the current church - and missions - is a domain where God’s absolute rule is very much contested by men.

Rather than basing Christian behaviour on a democratic mind-set in which everyone does as he likes and if he likes (like in the days of the judges where Israel was without a king and “everyone did as he saw fit”), we need to voluntarily return to the royal rulership of Christ and “seek first his Kingdom and its constitution”, the righteous declarations and commands of Jesus, its King.

God wants a God-shaped church, we want a church-shaped God

As we seek to see ourselves and each other newly with the eyes of God and if we give up everything that defines us in human terms and start seeking corporately to hear God’s agenda for us, He will transform us into an apostolic people yet again, a species of destiny that will reach His goals, a species that again acts in apostolic unity.

Should we choose to ignore this, and remain - seemingly safely funded, employed and religiously entertained - in a fragmented, rebellious and self catering state, the helpless captives of our own opinionatedness and our democratic, anti-monarch and therefore Kingdom-opposing mindset, we will remain trapped in systems conflict:

God wants to do something to and through the church, that He cannot do because of the present state of the church - and her missionary expressions. In other words: God wants a God-shaped church, we want a church-shaped God. In such a case we will remain loud but powerless, seen but unblessed, heard but ignored, noticed but ridiculed, busy but fruitless, successfully executing our ineffective projects, excitedly wasting millions of lives, hours and dollars, while slipping into a perplexing spiritual oblivion while the world cries in increasing agony for true spiritual direction, having sadly turned away from church-as-we-know-it decades ago.

The choice is ours. Let us repent, alone and corporately, truly returning to God, His ways, His book, and church as God wants it, and hand ourselves over to His reign for that purpose. He loves us, and He knows better than us what to do with us. Only He can make us to become the people of destiny that he originally designed us to be.

Kingdom-focussed E-Mail news-bulletin with inspiring reports of God at work around the world, with special emphasis on the current global reformation of Church and Missions. Editor: Wolfgang Simson. Subscription: € 30/ US-$ 40 per year. Freitagsfax 2.0, PO Box 1248, D-79397 Kandern, Germany. Website: http://www.simsonwolfgang.de/html/welcome.html. © Dawn Europa e.V.; 22 issues per year, available in English and German. http://www.jesuschurch.info/Keys_Of_The_Kingdom.html
Baca SelengkapnyaKEYS OF THE KINGDOM: A GLIMPSE AT APOSTOLIC UNITY

Friday, June 28, 2013

Membangun orang dan pergerakan daripada membangun "karir rohani"

Seringkali kita lihat di Alkitab Yesus menghindari orang banyak untuk berdoa secara pribadi. Setiap kali orang mau membuat Dia jadi bintang terkenal maka Dia lari untuk berdoa. Ketika mereka ingin menjadikan Dia raja karena Dia bisa "membuat roti" maka Ia pergi berdoa (Yohanes 6:15). Waktu mereka mau menjadikan Dia terkenal sebagai penyembuh, maka dikatakan bahwa Yesus meninggalkan khalayak ramai dan pergi berdoa sehingga Dia bisa punya prioritas utama, berbicara dengan Bapa. Ia pergi kepada Bapa, seakan berkata: “Bapa, orang-orang telah membuat-Ku jadi bintang dan telah menaruh bintang-bintang di pundak-Ku. Mereka telah memberi-Ku gelar. Bapa, ambil itu dari-Ku, biar aku jadi Anak saja. Aku tidak menginginkan apa yang orang-orang bisa berikan. Aku hanya mau apa yang diberikan Bapa”.

Ini penting! Banyak orang terima pujian kemudian mulai “naik” dan terus naik sampai menjadi korban dari kesuksesannya sendiri dan akhirnya terkunci di posisinya, tidak bisa turun lagi dari posisi yang diberikan oleh manusia. Itulah sebabnya Yesus menjalani hidup yang disebut Pengunduran diri strategis. Dia mengundurkan diri dari sanjungan dan pusat perhatian orang banyak. Sering sehabis menyembuhkan orang sakit Dia menyuruh orang tersebut tidak memberitahukan hal itu kepada orang banyak. Alangkah berbedanya apa yang Yesus jalani dengan mimpi dan gairah kebanyakan orang-orang Kristen dan pelayan-pelayan Tuhan hari ini...

Walaupun bisa, Yesus bahkan tidak pernah membangun denominasi. Dia lebih tertarik membangun pergerakan, membangun hubungan-Nya dengan Bapa, membangun orang-orang. Disanalah Dia investasikan hidup dan energi terbaik-Nya. Itulah gairah utama-Nya. Jauh dari kesan cari nama.

Apa yang sedang kita bangun?



- CORNELIUS WING -

Sumber : gerejaperjanjianbaru.blogspot.com
Baca SelengkapnyaMembangun orang dan pergerakan daripada membangun "karir rohani"

Monday, June 24, 2013

Bau tak sedap otoritarianisme dalam gereja

Kepemimpinan pada strata "puncak piramida" dalam kehidupan bergereja sering mengidap ‘penyakit kekuasaan’. Dunia juga tahu bahwa pusat kekuasaan selalu rentan dan tidak imun terhadap korup ; makin melimpahnya kekuasaan maka makin terbuka lebar kemungkinan penyalahgunaannya. Praktek manipulasi, dominasi bahkan intimidasi makin tumbuh subur. Entah pada ujung-ujungnya berhubungan dengan keuangan, moralitas atau arogansi. Sering para elite rohani menegaskan bahwa otoritas mereka diperlukan untuk mengontrol dan menjaga kawanan. (Meski disisi lain juga mengundang pertanyaan tentang siapa yang mengontrol mereka? Apakah mereka kebal dosa? Bisa meng"excuse" kesalahan sendiri karena statusnya adalah mandataris Tuhan dan cenderung "tidak bisa salah" ? Kepada siapa secara pribadi mereka memberikan pertanggungjawaban atas keuangan dan moralitas? ). Perlu terus menjadi kritis mengenai seberapa jauh implikasi dan aplikasi soal topik bahasan tersebut supaya kebenaran tentang otoritas tidak diserongkan dan proses pembodohan terus terjadi.

Jika ketidak-seimbangan mengenai hal tersebut tidak terkoreksi maka pada akhirnya otoritarianisme akan tumbuh subur dalam gereja. Proses memberdaya(kan) sering melenceng menjadi proses memperdaya. Apa akarnya? Meski tidak semua akar permasalahannya bisa diungkapkan dalam coretan singkat ini tetapi pada hemat penulis salah satu akar masalahnya adalah pemahaman yang tidak seimbang tentang prinsip penundukan diri dalam Ibrani 13:17 di kalangan pemimpin rohani. Ungkapan ‘tunduk dan taatilah pemimpinmu’ pada ayat tersebut telah dipahami bahkan diterapkan pada konteks yang kurang tepat, sekaligus menjadi senjata ampuh yang digunakan dalam proses manipulasi dan intimidasi terhadap jemaat/pengikut demi kepentingan sepihak, sang pemimpin.

Ada baiknya menjadi jujur tentang situasi tersebut dan melakukan studi serta kajian lebih mendalam lagi. Karena perilaku dibentuk oleh apa yang kita tahu, maka salah pengetahuan berarti salah kelakuan. Hidup kita dibentuk oleh berita yang kita dengar dan hayati. Kebenaran soal kepemimpinan dan penundukan diri pun harus dilihat pada sudut pandang yang seimbang. Kalau kita melihat kata Yunani yang relevan dengan kekuasaan/otoritas rohani maka kata tersebut adalah: exousia. Kata ini biasanya diterjemahkan sebagai 'kekuatan (power)' atau pun 'kekuasaan (otoritas)', dalam bahasa Inggrisnya adalah 'authority'.

Yang menarik adalah bahwa pada Perjanjian Baru, tidak disebutkan bahwa seorang percaya mempunyai 'kekuasaan/otoritas/exousia' seorang terhadap yang lainnya (sekalipun memiliki otoritas atas banyak hal yang lain). Kita punya otoritas/kekuasaan terhadap hal-hal, dan bahkan roh- roh di udara, tetapi tidak pernah terhadap orang Kristen lainnya. Hal ini menimbulkan debat yang mengejutkan mengenai kepemimpinan dan otoritas/kekuasaan rohani. Raja-raja mempunyai otoritas/kekuasaan terhadap subjek mereka; Paulus mempunyai otoritas/kekuasaan dari para imam untuk menganiaya gereja (Kisah 9:14, 26:10-12). Tetapi semua itu dari luar gereja. Di dalam gereja, seorang percaya tidak pernah dikatakan mempunyai exousia terhadap yang lainnya, tanpa memperhatikan posisi atau pun wibawa mereka.

Siapakah yang harus seseorang patuhi? Di sini, jawabannya menarik juga. Jika kita mengamati penggunaan kata “hupakouo”, yang merupakan bahasa Yunani yang berarti 'obey/patuh/taat' maka kita akan menemukan bahwa kita harus mentaati Tuhan, Injil (Roma 10:16) dan pengajaran para rasul (Filipi 2:12, II Tesalonika 3:14). Anak-anak mentaati orang tua mereka, dan hamba kepada tuannya (Efesus 6:1, 5) Apakah hubungan antara orang percaya terhadap para pemimpin jemaat ada dalam konteks "ketaatan" tersebut ? Jika seperti itu, maka hal tersebut tidak dikatakan dalam Perjanjian Baru.

Bagaimana dengan teks dalam Ibrani 13:17, yang berkata: 'taatilah pemimpinmu?' Teks ini menarik, karena memberikan pengertian yang dalam mengenai pengertian kepemimpinan dalam Perjanjian Baru. Keterangan sebelum ini sudah menekankan sisi negatifnya -- bahwa mereka tidak punya otoritas/kekuasaan rohani dalam arti yang biasanya, dan bahwa orang percaya tidak dikatakan harus mentaati mereka, dalam kerangka pengertian "exousia". Bagaimanapun juga, Perjanjian Baru bersikeras bahwa ada pemimpin-pemimpin dalam jemaat lokal dan kehadiran serta pelayanan mereka penting bagi kesehatan dari jemaat. Masalahnya adalah pada konsep kepemimpinan itu sendiri; bersumber dari kebenaran rohani atau konsep kepemimpinan yang dari duniawi? Ada petunjuk dalam Ibrani 13:17. Jika Anda mengamati kata kerja yang diterjemahkan menjadi 'obey/mentaati', Anda akan menemukan kata 'peitho' yang berarti 'membujuk'/persuasi. Dalam bentuk kata yang dipakai di sini (middle-pasif) berarti sesuatu seperti 'biarkan dirimu dibujuk oleh' atau 'mempunyai kepercayaan dalam'.

Sekarang ini sangat membantu. Orang-orang percaya harus membiarkan diri mereka untuk dibujuk oleh para pemimpin mereka. Pemimpin diberi kehormatan tertentu yang membuat kata-kata mereka lebih berbobot dari yang sebenarnya mereka punyai dalam dan dari diri mereka sendiri. Memiliki kemampuan persuasif. Dan para jemaat yang lain harus condong untuk mendengarkan apa yang mereka katakan. Kita harus membiarkan diri kita untuk dibujuk oleh para pemimpin -- tidak untuk mentaati mereka membabi buta/tanpa berpikir, tapi berdiskusi dengan mereka sementara kita condong untuk mendengarkan apa yang mereka katakan. .

Kata kerja lain yang digunakan dalam Ibrani 13:17 menguatkan kesimpulan ini. Ketika teks ini mendesak orang-orang untuk tunduk pada pemimpin, ini tidak menggunakan jenis kata dalam Perjanjian Baru untuk kata 'submit / tunduk' yang kata aslinya adalah “hupotassomai”, yang bermakna konotasi: sesuatu seperti menaruh diri sendiri dalam suatu organisasi di bawah pimpinan orang lain. Kata itu berbeda. Ini adalah “hupeiko”, bukan hupotassomai dan ini hanya muncul sekali dalam Perjanjian Baru. Ini berkonotasi bukan suatu struktur di mana kita tunduk, tetapi suatu peperangan dimana setelah itu orang menyerah/mengalah. Gambarannya (bila dalam kemiliteran) adalah suatu diskusi yang serius, suatu pertukaran tempat ketika suatu partai menyerah. Ini lebih kepada membiarkan diri kita dibujuk oleh pemimpin-pemimpin jemaat, daripada tunduk tanpa perlawanan pada mereka seperti yang kita lakukan pada kekuasaan dan struktur kehidupan yang ada.

Hal ini menjadikan masuk akal dengan kriteria pemimpin dalam surat-surat pastoral. Karakter adalah hal terpenting bagi pemimpin -- mereka harus 'dapat-dihormati’. Jika mereka seharusnya menjadi 'pembujuk', itu berarti mereka harus dengan sangat unggul dapat dihormati, karena orang jenis inilah yang cenderung kata-katanya dapat dianggap serius/penting. Jenis dari 'kemampuan untuk dapat dihormati' yang diuraikan di sana meminjam arti kata kredibilitas dari pemimpin, karena itu memberi kita kepercayaan untuk membuat kita membuka diri sebagai jemaat untuk dibujuk oleh mereka. Bukannya menuntut penghormatan berlebihan atas otoritasnya sementara kehidupannya tidak berkarakter dan kredibel.

Kita harus mengambil ide tentang kepemimpinan dari Perjanjian Baru, bukan dari dunia. Maka, kita harus memulai bukan dengan konsep duniawi dari kepemimpinan, tetapi dengan ide alkitabiah dari kata 'pembujuk' dan mencoba untuk menerapkannya dalam situasi sehari-hari kita. Benar bahwa orang yang olehnya jemaat dibujuk, menerima sejenis penghormatan dan kekuasaan/ otoritas. Tetapi ini bukan kekuasaan yang membabi buta seperti praktek dari banyak otoritas/ kekuasaan rohani dewasa ini.

Kita sudah melihat bahwa otoritas rohani itu berdasarkan kepercayaan yang sungguh-sungguh pada pemimpin. Tapi pemimpin juga berdasar pada kebenaran. Pemimpin jemaat harus mencintai kebenaran dan benci untuk didengarkan ketika mereka tidak menunjukkan integritas dan kredibilitas sejati. Lebih lagi, kebenaran itu penting sekali dalam ke-persuasif-an pemimpin. Tapi persuasif menuntut adanya dialog; dan dialog membutuhkan keaktifan partisipasi dari semua jemaat. Seorang pemimpin yang punya karisma untuk membujuk orang untuk melakukan yang tidak benar, dan melakukannya, itu jahat/sihir. Dan buruk juga, jemaat yang mengikuti secara membabi buta.

Terbujuk pada suatu kebohongan adalah bentuk terburuk dari perbudakan. Pemimpin-pemimpin dalam jemaat terikat dengan kebenaran dan melayaninya jauh di atas pelayanan mereka terhadap yang lain. Dan jemaat terikat dengan tanggung jawab untuk berdialog mengenai kebenaran. Kepercayaan yang ditimbulkan oleh pelayanan itu berbahaya jika tidak dikoordinasi dengan ketundukan pada kebenaran Injil. Jika kebenaran dan kepercayaan tidak berjalan bersama-sama dalam dasar kepemimpinan dalam jemaat, maka kepercayaan yang diciptakan dalam pelayanan ini akan menjadi suatu bentuk yang jelas dari kekuatan-kekuatan yang kita sebut manipulasi.

Kepemimpinan Kristen yang murni, berdasarkan pada kebenaran dan kepercayaan, tidak pada kepemimpinan gaya dunia. Kepemimpinan dalam jemaat disebut sebagai kehidupan pelayanan yang dapat-dihormati. Kehidupan yang kredibel dan berintegritas seperti itu menimbulkan kepercayaan dari orang lain. Pemimpin, seperti semua anggota Tubuh Kristus, tunduk pada kebenaran dan hidup dalam kebenaran yang adalah Kristus sendiri. Seharusnya otoritarianisme kepemimpinan dan pasifnya kepengikutan tidak ada dalam kehidupan bergereja kita. - Cornelius Wing -



Sumber : gerejaperjanjianbaru.blogspot.com
Baca SelengkapnyaBau tak sedap otoritarianisme dalam gereja